Senin, 27 Juni 2016

Stultus Amor

Gelisahnya hati seorang pemuda di tengah malam tepat berada di jantung kota Minyak, Pekanbaru. Empat pulau besar di negara ini telah dia kunjungi hanya untuk menyambung batang demi batang rokok Marlboro yang selalu menemaninya di setiap kondisi apapun dalam menjalani hidup ini.



654 Km dari tempat dia duduk sekarang atau 14 Jam 27 Menit lama waktu yang harus ditempuh melalui Jalan Lintas Timur Sumatera seorang pemuda gelisah itu teringat akan tempat yang menempa hidupnya menjadi sosok yang istimewa dan pantang menyerah, yaitu Medan, yahhhh Medan, kota dimana seluruh masyarakat negara ini menjulukinya sebagai kota Durian. Tepat 7 tahun lalu ada sosok bidadari desa yang sedang menambah ilmu di salah satu Universitas swasta di kota itu berhasil membuat pemuda itu lupa akan kodrat nya sebagai manusia, dimulai saat pertama di sebuah gang kecil yang sampai saat ini dia lupa akan nama dari gang itu, disaat siang akan menyerahkan kekuasaanya terhadap misterius nya malam, untuk pertama kalinya dia melihat wanita berkerudung Syar'i itu melintas di depan rumah kontrakannya sembari melepaskan senyum terindah yang pernah dia lihat dari seorang wanita yang bukan Mahram nya. di dalam hati sang pemuda berkata Maha suci ALLAH sungguh indah ciptaan Mu ini ya Allah, gadis itu pun berlalu tanpa sepotong ucap yang keluar dari bibir indah yang mampu mengalahkan indahnya bibir seorang Megan Fox di film Transformer.

06 Juli 2009 Senin malam itu menjadi salah satu senin malam terpanjang bagi dia untuk ber angan menjalani hari bahagia bersama gadis berkerudung Syar'i itu. Lima hari setelah itu semua berlalu akhirnya dia mengetahui nama sang gadis pujaan nya itu, tepat sabtu malam dimana sang gadis membeli satu porsi martabak kacang coklat di kakilima sebuah ruko yang berada di ujung jalan. pemuda itu memberanikan diri untuk menyapa dengan kata yang disusun layaknya seperti sedang ingin menyapa Elizabeth Queen. Dari percakapan singkat sambil menunggu abang penjual martabak itu menyelesaikan pesanan sang gadis, akhirnya dia mengetahui bahwa gadis berparas khas wanita melayu itu bernama Aurella dan pemuda itu mengenalkan namanya dengan jelas Leo Panthera, panggil saja TeraPemuda itupun merasa sedang berada di Emirgan Park Istambul, Turkey . Lampu lampu kendaraan di sekitar dia lihat bagaikan warna warni hamparan Tulip yang sedang mekar. Namun sekian detik kemudian dia merasa sedang berada di Kota Calang, Aceh Jaya saat sedang diterjang Tsunami 2004 lalu, ketika ada seorang pemuda lain menanyakan kepada Aurella apakah pesanannya sudah selesai, dalam diam Tera berfikir keras sambil berucap dihati semoga laki laki ini bukan pangeran sang Queen Aurella.






NB : bagaimana kelanjutan cerita cinta Tera & Aurel...?
       cerita ini bersambung, akan ada 6 sequel


Kamis, 05 Mei 2016

Malam, Setelah Hilang 3 Tahun


Saya tidak ingat persis sejak kapan hal ini saya rasakan. Saya bahkan kurang yakin tentang apa yang saya rasakan ini. Tapi yang jelas, semenjak saat itu datang, saya mulai mencintai malam.
Ya, malam.
Dahulu, saya pecinta pagi, dengan tetesan embunnya yang jernih dan menyejukkan, dengan pelukan matahari yang menghangatkan, dengan cinta langit yang membiru mengangkasa.
Dahulu, saya mencintai pagi. Setiap hari saya menyambutnya dengan senyum, setiap hari saya melangkahkan kaki dengan ringan untuk berteriak semangat pada pagi. Setiap hari saya menapakkan jejak jejak langkah dengan riang memulai segala aktivitas.
Dahulu saya cerah seperti pagi, dahulu saya hangat kepada semua orang seperti mentari pagi. Dahulu saya berusaha menjadi terang,bersinar, dan gemilang seperti kemilaunya pagi.
Sekarang?yang saya bilang entah sejak kapan itu. Saya lebih mencintai malam. Saya bukannya tidak mau lagi menjadi sehangat pagi. Tapi bagi saya sekarang, malam jauh lebih indah. Malam mungkin tidak terang, namun gelapnya meneduhkan. Malam mungkin tidak begitu bersinar, namun gemintangnya sangat indah. Malam mungkin tidak berkilau, namun kesyahduannya menenangkan.
Malam, dia tidak banyak bicara, tidak bising, malam itu lembut. Malam tidak panas, kesejukannya membuat saya nyaman. Malam tidak banyak polah, dia tidak menuntut saya untuk beraktivitas banyak, dia hanya memandang saya dari kejauhan untuk membiarkan saya terbaring dengan tenang di peraduan saya, meninabobokan saya dengan nyanyian alamnya, dan bertasbih menyebut asma Allah, berharap agar saya masih dapat berjumpa dengan malam malam berikutnya.
Terimakasih malam, sampai jumpa besok malam.InsyaAllah…