Jumat, 13 April 2018

Belajar Dari Sunset



Buat kamu yang masih terlalu cinta, apakah dirimu tak lelah menanti dia yang sejatinya tak sedikitpun mencoba memalingkan wajahnya? Mau berapa lama lagi hatimu terus menerus kamu beri kepercayaan palsu?
Apakah logikamu tak lelah setiap hari meyakinkan untuk berhenti mengharapkan sesuatu yang tak mungkin untuk kembali? Sudah berapa kali logikamu berusaha untuk menasihati? Dan sudah berapa kali hatimu selalu menutup telinga lalu pura-pura diam dan tak mengerti?
Buat kamu yang masih terlalu sayang, mau berapa banyak lagi nasihat-nasihat baik yang kamu tolak? Berapa banyak kamu bercerita kepada orang-orang tapi tak kunjung juga kamu dapatkan jawaban seperti yang kamu inginkan? Apakah kamu tak sadar, bahwa dirimu sendirilah yang memaku kakimu untuk melangkah
Buat kamu yang masih terlalu cinta, mengapa kamu tak kunjung membuka mata? Diluar sana, ada seseorang yang lebih berharga untuk diperjuangkan ketimbang apa yang kamu idam-idamkan selama ini. Tapi apakan kamu tak kunjung sadar? Dirimu sendirilah yang menyuruh mereka untuk menyerah.
Seberapa sering kamu berdoa untuk nama yang sama? Seberapa sering kamu mengajukan pilihan kepada tuhan, dan menolak apa yang tuhan telah pilihkan?
Buat kamu yang masih terlalu cinta, butuh berapa lama lagi hingga pada akhirnya kamu akan mengerti? Apakah hatimu sejatinya tak letih terus menerus dihadapi dengan rasa sedih? Tuhan hanya memisahkan, tapi kamulah yang sejatinya memelihara kesedihan itu
Buat kamu yang masih terlalu cinta, belajarlah untuk sesekali mau mencoba membuka hati. Dia yang sekarang kamu puja itu adalah dia yang dulu tak kamu percaya juga awalnya. Dia yang sekarang kamu puja itu adalah dia yang dulu kamu tak punya rasa juga padanya. Lantas, mengapa sekarang kamu begitu takut mencobanya?
Buat kamu yang sekarang masih terlalu cinta, berhentilah mencari jawaban, dan mulai belajar untuk mau menerima jawaban. Mengertilah bahwa tuhan tak selalu memberi jawaban seperti apa yang kamu inginkan. Lewat dia yang meninggalkan, contohnya. Mungkin bisa saja lewat dia yang perlahan datang
Buat kamu yang masih terlalu cinta, sudah saatnya ada tangan yang kembali digenggam dibawah guyuran hujan. Sudah saatnya ada senyum yang kembali tersirat di tengah hiruk pikuk kota. Sudah saatnya ada ucapan selamat malam kembali sebelum doa-doa terbang dan mulai terpanjatkan
Buat kamu yang masih terlalu cinta, kehilangan mungkin adalah penyakit yang paling menyakitkan. Tapi percayalah itu mampu disembuhkan ketika hatimu berani untuk terbuka dan menerima sebuah kedatangan. Satu-satunya obat sakit hati adalah berani untuk jatuh cinta lagi
Dan buat kamu yang masih terlalu cinta, belajarlah dari luka. Bahwa di dunia ini, tidak ada duka yang tidak bisa disembunyikan oleh cinta
belajarlah dari senja, dia selalu mengingatkan kepada kita bahwa sesuatu yang berakhir, tak selamanya tak indah


Jumat, 30 Maret 2018

I'm Fine


Aku mengetuk-ngetukkan korek diatas meja. Tangan kiriku masih setia menjepit rokok yang sudah setengah terbakar, sambil menatap suasana kearah luar dari sebuah Cafe yang berkonsep Vintage di kota ini dengan layar laptop yang masih menyala menunggu surat yang akan kutuliskan untukmu

kepada seseorang yang fotonya pernah ada disetiap tempat spesial yang aku siapkan
mungkin ini adalah surat fiksi yang keseribu kalinya aku tulis, namun tak akan pernah kamu baca. Tak apa, ia memang tercipta seperti itu atau lebih tepatnya seperti kisah kita kemarin, mungkin..? hahaha, sorry..sorry, aku tak bermaksud membuatmu tersinggung lagi

Oke, surat ini aku tulis bukan tanpa alasan, melainkan ada beberapa hal yang menggerakkan tanganku untuk kembali mengetik namamu lagi disini. Ahhh tidak, aku tidak mungkin menuliskan namamu disini
kau..kau.. Namamu terlalu indah, sekaligus terlau menyakitkan untuk ditulis disini

Malam ini aku menceritakan apa maksud dari setiap kata "Aku Tak Apa"  yang kau dapatkan, ketika kau bertanya kepadaku setiap aku terdiam. Aku bukan bermaksud menjadi seseorang yang egois dan kekanak-kanakan karena tidak memilih untuk bicara tentang perasaan yang aku rasa, hanya saja aku tidak tahu jika aku bicara, itu akan mengganggu kebahagiaanmu sekarang ini

Tak enak rasanya aku merusak kebahagiaanmu yang telah dibangun susah payah oleh seseorang (namun tetap tak sehebat aku), yang kau cium pipinya sebelum tidur itu. Karena dulu tanpa kau tahu, aku juga benci ketika kau disampingku, namun kau tetap membicarakan orang lain

ahh, tuh kan aku jadi membicarakan  masalalu. sorry..sorry...

Dari sekin banyak kerikil, dari sekian banyak anak tangga, dari sekian banyak persimpangan, dari sekian banyaknya hal-hal itu di masalalu, pada akhirnya aku sampai kepadamu kemarin. Aku kira aku akan berhenti cukup lama, namun ternyata tidak. Aku kira kau lebih dari sekedar tempat peristirahatan, namun ternyata kau adalah persimpangan yang lainnya

Namun aku akan jujur. Dari sekian banyak masalalu yang telah aku lalui, entah mengapa kau yang paling melekat. Rasa-rasanya setiap aku menemui orang baru dan menunjukkan nya kepada temanku, mereka akan berkata orang baru itu mirip dirimu
Entah itu matanya, hidungnya, bibirnya, badannya, bahkan gelak tawanya. Awalnya aku merasa ini hanya kebetulan, hingga pada akhirnya tiga temanku mengatakan bahwa setiap persimpangan yang aku lalui, semuanya selalu mirip dirimu

Astaga! Jadi, selama ini dibawah alam sadarku, aku mencari penggatimu. Namun sebenarnya aku mencari kau dalam diri orang lain? Ini sungguh memalukan bukan. Aku tak pernah merasa sebegitu bodohnya, kau adalah orang pertama yang mampu membuatku seperti ini

Tapi tenang aja, aku pun pada awalnya tak percaya. Mungkin ini hanya khayalku saja. Namun, semakin aku mencoba mengelak dari rasa yang aku buat sendiri ini, tanpa kusadari aku semakin mencari kau...iya kau...

Aku sangat pandai menasihati orang lain. Mencaci-maki setiap mereka yang bodoh karena bertahan setelah ditinggal pergi. Namun, sekarang aku adalah mereka. Aku mencaci-maki diriku sendiri. Ahhh... rasa-rasanya aku semuakin membenci diriku sendiri jika menceritakan hal ini lagi. Maka, maukah mulai sekarang kau mengerti apabila aku menjawab "Aku Tak Apa" ketika kau tanya bagaimana kabarku?
Karena, selain aku yang tanpa sadar mencarimu disetiap orang yang aku temui, kau juga tahu bahwa kabarku pernah jauh lebih baik, dan itu adalah ketika aku  masih bersamamu

Akupun sama sepertimu, tak ingin kita jauh, tak ingin kita seperti orang asing lagi. Tapi jujur saja, aku benci menjadi orang pintar yang sudah terlanjur memenuhi otakku dengan banyaknya pengetahuan bahwa sekarang kau tak lagi mencintaiku dan yang brengseknya lagi, disini aku masih cinta.

Aku rindu menjadi orang bodoh. Yang berani mencintaimu secara luar biasa ketika kita pergi berkencan untuk kedua atau ketiga kalinya. Aku rindu menjadi orang bodoh yang mendengarkanmu menangis setelah dilukai orang lain. Aku rindu menjadi orang bodoh yang berpura-pura tak apa ketika telinga dijejali tawamu menceritakan orang lain

Aku rindu menjadi bodoh! Aku rindu kam... upsssss salah, aku rindu menjadi bodoh!

Selain itu, disetiap kalimat "Aku Tak Apa" yang aku ucapkan kepadamu, disana juga tersimpah sebuah rahasia lain. Rahsia perihal hari-hariku yang tentunya sudah tanpa kamu. Baik buruknya aku ingin banyak bercerita seperti dulu, kau mendengarkan, sesekali tertawa karena aku menyelipakan kata-kata manis, atau ngakakkkk ketika aku menyelipkan hinaan kecil perihal orang yang aku temui hari itu

Namun, aku memilih untuk tidak bercerita lagi. Bukan karena apa-apa, lebih karena aku tak ingin mengganggu apa yang sedang kau bangun sekarang bersama orang lain itu. Aku sebenarnya bisa saja menjadi orang brengsek yang datang, masuk ke kehidupan kalian, mambuatmu kembali jatuh cinta kepadaku, lalu kemudian aku pergi begitu saja. Ah, itu perkara yang sangat mudah untukku. Bahkan hanya lewat tulisan saja aku mampu.
Tapi kau tahu aku. Aku yang sebenar-benarnya, aku tidak akan pernah melakukan itu

Maka nanti disetiap kalimat "Aku Tak Apa" yang aku ucapkan, aku harap kau mulai mengerti ada banyak pengorbanan yang aku simpan didalamnya. Pengorbanan perihal aku, engkau, kita, masalalu, dan masa depan

Terima kasih.

Akhirnya, surat ini aku tutup tepat ketika lagu Michael Buble - You don't Know Me  yang sedang mengalun di Cafe L-CO (Medan) menyentuh detik-detik akhir.
Terima kasih sudah pernah datang. Terima kasih sudah pernah membuatku jatuh cinta. Aku pernah bahagia bertemu kau, dan aku tak pernah menyesal

Kita adalah sebuah kebetulan yang entah bagaimana caranya bisa menjadi bahagia. Sesuatu yang tak pernah disangaka-sangka sebelumnya, namun bisa bertahan begitu lama

Aku tak bermaksud memenangkan kau kembali. Aku sudah cukup. Saatnya aku kembali berlari setelah cukup lama beristirahat.
Kelak apabila kau tak sengaja membaca surat yang diam-diam aku tulis untumu ini, lalu kau merasa bahwa aku belum benar-benar bisa melupakanmu, well...
Seperti lagu yang sedang aku dengarkan tadi, Sorry, You Don't Know Me


Minggu, 25 Maret 2018

Tanyaku Yang Tak Terucap



Aku tidak menyangka bicara berdua bisa sesulit ini sekarang
kita seperti kita yang dulu sebelum saling mengenal
Aku masih ingat pernah dipaksa olehmu untuk melepaskan, diperintah olehmu untuk melupakan.
Memaksaku untuk berhenti, ketika aku masih terlalu sayang.

Setelah berkali-kali mencoba bertahan, akhirnya aku tersadar bahwa aku telah kehilangan sekali lagi. Sehebat apapun aku mencoba, sekuat apapun aku mengalah, pada akhirnya aku selalu menjadi pihak yang merasa kehilangan.

Berusaha sekuat tenaga hanya akan semakin menyakiti diri sendiri.
Mungkin kau tidak bahagia denganku. Mungkin melepasku mengartikan kau telah menemukan bahagia. 
Namun apakah aku bisa merasa bahagia juga.? Layaknya mengupas luka yang sudah terlanjur kering.

Bahagiamu sekarang, dengan sesalnya terasa seperti luka baru di hatiku
Tidak ada kebahagiaan dalam hati, ketika dipaksa melepasmu agar kau hidup lebih bahagia. Aku menaruhmu terlalu dalam di hati, sehingga untuk menghapusmu, aku seperti menyakiti diriku sendiri

Jika ada keterlukaan yang paling menyakitkan, itu adalah keterlukaan ditikam oleh perasaan, bahwa aku dilukakan oleh orang yang sampai sekarang pun masih aku sayang

 Aku tidak akan berkata banyak, aku harus pergi sekarang, dan aku tidak tahu kapan akan kembali. Atau mungkin tidak sama sekali; Aku belum tahu dan belum merencanakannya

Sebuah tanya yang ingin aku sampaikan  pada sosok yang pergi itu adalah
Siapa aku bagi dia yang pergi?
Mengapa baginya aku tak cukup indah untuk merebahkan diri?

Sampai aku menemukan jawabannya di antara lapisan embun dan CO2 dari hasil fotosintesis daun di heningnya malam

yahhhh aku tahu siapa aku saat ini..!! Aku tahu
aku adalah sosok yang dulu selalu menyemangati, sekarang menjerit mati ditinggal pergi

Maka berbahagialah kau dengan suka cita. Sehingga menyakitiku kemarin bukanlah satu tindakan yang sia-sia

Sabtu, 10 Februari 2018

Luka itu memang bisa sembuh, tapi tidak sesederhana itu .


Teruntuk kamu yang pernah menjadi bidadari di masalaluku

satu pertanyaan yang selalu menari di kepalaku, untuk apa kembali lagi..????  Untuk apa...??? 

untuk apa kembali disaat semua sudah hampir aku susun rapi


Sadarkah kamu bahwa kita hidup bukan di negeri dongeng ?
negeri dimana apapun yang kita inginkan bisa kita dapatkan kapanpun dan bagaimanapun
sadarkah yang kamu hadapi itu manusia, dimana manusia itu punya perasaan, hati kecil yang bisa kapan saja berubah  ?

kamu dulu kemana ?
mengapa menghilang begitu saja disaat aku benar-benar mengagumimu, disaat aku meyakini bahwa kamu itu everything

kamu yang dulu yang aku fikir adalah matahari, ternyata hanya sebuah pelangi, yang hadir dengan segala warna yang indah namun hanya sesaat

ya, sekarang aku sadar bahwa kamu memang seperti hujan, hadir tak menentu, dan sekalinya hadir pun untuk pergi kembali, dan entah kapan lagi akan kembali, mungkin saja lupa untuk kembali


Kini kamu hadir kembali, ingin mengulang semuanya dari awal... ohhh no, tidak semudah itu sayang
kalau begitu, dimana letak keadilan  ? disaat aku berjuang menata kembali sudut ruang yang kamu tinggalkan dengan sangat berantakan, kini kamu hadir dengan senyum tidak berdosa ingin masuk kembali
maaf, aku saja lelah sekali menata untuk merapikannya, dan aku berfikir bahwa aku takkan pernah membiarkan ruang itu berantakan untuk kesekian kali, apalagi dengan orang yang sama

Aku tidak benci, sama sekali tidak membencimu, sedikitpun tidak, kamu tahu aku selalu mencobanya namun hasilnya selalu sia-sia 
Tapi ada satu rasa yang lebih dari itu, aku kecewa, sangat kecewa. Rasa kecewa yang membuatku berat untuk kembali berjalan disisimu, kecewa yang membuatku menjauh darimu

Aku takut, takut salah lagi  memperjuangkan dan pada akhirnya nanti aku terjatuh lagi ke jurang yang sangat kelam itu, dan kamu hanya bisa melihatku tanpa pernah mencoba membantuku untuk berdiri

Sudahlah, mungkin ini memang jalan kita untuk berada di arah yang berbeda dan berjalan dengan orang yang bukan kita

Masa lalu memang tak pernah bisa dilupakan namun bukan berarti aku harus tenggelam lagi di dalamnya
biar semua cerita yang pernah kita lalui menjadi sebuah cambukan bahwa tidak akan pernah ada alasan untuk menyia-nyiakan dia yang kini bersamamu, karena semua akan terasa bermakna setelah tiada, dan aku yakin pada sebuah kata bijak dari orangorang diluar sana bahwa "Apabila sesuatu yang sudah pergi, meski kembali dia tak akan pernah lagi sama"

Setidaknya kamu bisa paham bahwa tidak sepantasnya kamu menyalahkan keadaan dimana saat keadaan dulu berpihak padamu, kamu justru acuh akan seseorang yang menggantungkan harapan nya kepada mu
Ingatlah , yang kamu hadapi manusia, benda hidup, bukan benda mati yang tidak pernah berpikir tentang sesuatu yang sesungguhnya terjadi

luka itu memang bisa sembuh, tapi tidak sesederhana itu !