Aku tidak
menyangka bicara berdua bisa sesulit ini sekarang
kita
seperti kita yang dulu sebelum saling mengenal
Aku masih
ingat pernah dipaksa olehmu untuk melepaskan, diperintah olehmu untuk
melupakan.
Memaksaku
untuk berhenti, ketika aku masih terlalu sayang.
Setelah berkali-kali
mencoba bertahan, akhirnya aku tersadar bahwa aku telah kehilangan sekali lagi.
Sehebat apapun aku mencoba, sekuat apapun aku mengalah, pada akhirnya aku
selalu menjadi pihak yang merasa kehilangan.
Berusaha sekuat
tenaga hanya akan semakin menyakiti diri sendiri.
Mungkin kau
tidak bahagia denganku. Mungkin melepasku mengartikan kau telah menemukan
bahagia.
Namun apakah aku bisa merasa bahagia juga.? Layaknya mengupas luka yang
sudah terlanjur kering.
Bahagiamu
sekarang, dengan sesalnya terasa seperti luka baru di hatiku
Tidak ada
kebahagiaan dalam hati, ketika dipaksa melepasmu agar kau hidup lebih bahagia.
Aku menaruhmu terlalu dalam di hati, sehingga untuk menghapusmu, aku seperti
menyakiti diriku sendiri
Jika ada
keterlukaan yang paling menyakitkan, itu adalah keterlukaan ditikam oleh
perasaan, bahwa aku dilukakan oleh orang yang sampai sekarang pun masih aku
sayang
Aku tidak akan berkata banyak, aku harus pergi
sekarang, dan aku tidak tahu kapan akan kembali. Atau mungkin tidak sama sekali;
Aku belum tahu dan belum merencanakannya
Sebuah
tanya yang ingin aku sampaikan pada
sosok yang pergi itu adalah
Siapa aku bagi dia yang pergi?
Mengapa baginya aku tak cukup indah
untuk merebahkan diri?
Sampai aku menemukan jawabannya di antara lapisan embun dan CO2 dari hasil fotosintesis daun di heningnya malam
yahhhh aku tahu siapa aku saat
ini..!! Aku tahu
aku adalah sosok yang dulu selalu menyemangati, sekarang menjerit mati ditinggal pergi
aku adalah sosok yang dulu selalu menyemangati, sekarang menjerit mati ditinggal pergi
Maka berbahagialah
kau dengan suka cita. Sehingga menyakitiku kemarin bukanlah satu tindakan yang sia-sia

Tidak ada komentar:
Posting Komentar