Minggu, 25 Maret 2018

Tanyaku Yang Tak Terucap



Aku tidak menyangka bicara berdua bisa sesulit ini sekarang
kita seperti kita yang dulu sebelum saling mengenal
Aku masih ingat pernah dipaksa olehmu untuk melepaskan, diperintah olehmu untuk melupakan.
Memaksaku untuk berhenti, ketika aku masih terlalu sayang.

Setelah berkali-kali mencoba bertahan, akhirnya aku tersadar bahwa aku telah kehilangan sekali lagi. Sehebat apapun aku mencoba, sekuat apapun aku mengalah, pada akhirnya aku selalu menjadi pihak yang merasa kehilangan.

Berusaha sekuat tenaga hanya akan semakin menyakiti diri sendiri.
Mungkin kau tidak bahagia denganku. Mungkin melepasku mengartikan kau telah menemukan bahagia. 
Namun apakah aku bisa merasa bahagia juga.? Layaknya mengupas luka yang sudah terlanjur kering.

Bahagiamu sekarang, dengan sesalnya terasa seperti luka baru di hatiku
Tidak ada kebahagiaan dalam hati, ketika dipaksa melepasmu agar kau hidup lebih bahagia. Aku menaruhmu terlalu dalam di hati, sehingga untuk menghapusmu, aku seperti menyakiti diriku sendiri

Jika ada keterlukaan yang paling menyakitkan, itu adalah keterlukaan ditikam oleh perasaan, bahwa aku dilukakan oleh orang yang sampai sekarang pun masih aku sayang

 Aku tidak akan berkata banyak, aku harus pergi sekarang, dan aku tidak tahu kapan akan kembali. Atau mungkin tidak sama sekali; Aku belum tahu dan belum merencanakannya

Sebuah tanya yang ingin aku sampaikan  pada sosok yang pergi itu adalah
Siapa aku bagi dia yang pergi?
Mengapa baginya aku tak cukup indah untuk merebahkan diri?

Sampai aku menemukan jawabannya di antara lapisan embun dan CO2 dari hasil fotosintesis daun di heningnya malam

yahhhh aku tahu siapa aku saat ini..!! Aku tahu
aku adalah sosok yang dulu selalu menyemangati, sekarang menjerit mati ditinggal pergi

Maka berbahagialah kau dengan suka cita. Sehingga menyakitiku kemarin bukanlah satu tindakan yang sia-sia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar