Aku
mengetuk-ngetukkan korek diatas meja. Tangan kiriku masih setia menjepit rokok
yang sudah setengah terbakar, sambil menatap suasana kearah luar dari sebuah
Cafe yang berkonsep Vintage di kota ini dengan layar laptop yang masih menyala
menunggu surat yang akan kutuliskan untukmu
kepada
seseorang yang fotonya pernah ada disetiap tempat spesial yang aku siapkan
mungkin ini adalah surat fiksi yang keseribu kalinya aku tulis, namun tak akan pernah kamu baca. Tak apa, ia memang tercipta seperti itu atau lebih tepatnya seperti kisah kita kemarin, mungkin..? hahaha, sorry..sorry, aku tak bermaksud membuatmu tersinggung lagi
mungkin ini adalah surat fiksi yang keseribu kalinya aku tulis, namun tak akan pernah kamu baca. Tak apa, ia memang tercipta seperti itu atau lebih tepatnya seperti kisah kita kemarin, mungkin..? hahaha, sorry..sorry, aku tak bermaksud membuatmu tersinggung lagi
Oke, surat ini aku tulis bukan
tanpa alasan, melainkan ada beberapa hal yang menggerakkan tanganku untuk
kembali mengetik namamu lagi disini. Ahhh tidak, aku tidak mungkin menuliskan
namamu disini
kau..kau.. Namamu terlalu indah,
sekaligus terlau menyakitkan untuk ditulis disini
Malam ini aku menceritakan apa
maksud dari setiap kata "Aku Tak
Apa" yang kau dapatkan, ketika kau bertanya kepadaku
setiap aku terdiam. Aku bukan bermaksud menjadi seseorang yang egois dan
kekanak-kanakan karena tidak memilih untuk bicara tentang perasaan yang aku
rasa, hanya saja aku tidak tahu jika aku bicara, itu akan mengganggu
kebahagiaanmu sekarang ini
Tak enak rasanya aku merusak
kebahagiaanmu yang telah dibangun susah payah oleh seseorang (namun tetap
tak sehebat aku), yang kau cium pipinya sebelum tidur itu. Karena dulu
tanpa kau tahu, aku juga benci ketika kau disampingku, namun kau tetap
membicarakan orang lain
ahh, tuh kan aku jadi membicarakan
masalalu. sorry..sorry...
Dari sekin banyak kerikil, dari
sekian banyak anak tangga, dari sekian banyak persimpangan, dari sekian
banyaknya hal-hal itu di masalalu, pada akhirnya aku sampai kepadamu kemarin. Aku
kira aku akan berhenti cukup lama, namun ternyata tidak. Aku kira kau lebih
dari sekedar tempat peristirahatan, namun ternyata kau adalah persimpangan yang
lainnya
Namun aku akan jujur. Dari sekian
banyak masalalu yang telah aku lalui, entah mengapa kau yang paling melekat.
Rasa-rasanya setiap aku menemui orang baru dan menunjukkan nya kepada temanku,
mereka akan berkata orang baru itu mirip dirimu
Entah itu matanya, hidungnya,
bibirnya, badannya, bahkan gelak tawanya. Awalnya aku merasa ini hanya
kebetulan, hingga pada akhirnya tiga temanku mengatakan bahwa setiap
persimpangan yang aku lalui, semuanya selalu mirip dirimu
Astaga! Jadi, selama ini dibawah
alam sadarku, aku mencari penggatimu. Namun sebenarnya aku mencari kau dalam
diri orang lain? Ini sungguh memalukan bukan. Aku tak pernah merasa sebegitu
bodohnya, kau adalah orang pertama yang mampu membuatku seperti ini
Tapi tenang aja, aku pun pada awalnya tak percaya. Mungkin ini hanya khayalku saja. Namun, semakin aku mencoba mengelak dari rasa yang aku buat sendiri ini, tanpa kusadari aku semakin mencari kau...iya kau...
Tapi tenang aja, aku pun pada awalnya tak percaya. Mungkin ini hanya khayalku saja. Namun, semakin aku mencoba mengelak dari rasa yang aku buat sendiri ini, tanpa kusadari aku semakin mencari kau...iya kau...
Aku sangat pandai menasihati orang lain. Mencaci-maki
setiap mereka yang bodoh karena bertahan setelah ditinggal pergi. Namun, sekarang
aku adalah mereka. Aku mencaci-maki diriku sendiri. Ahhh... rasa-rasanya aku
semuakin membenci diriku sendiri jika menceritakan hal ini lagi. Maka, maukah
mulai sekarang kau mengerti apabila aku menjawab "Aku Tak Apa" ketika
kau tanya bagaimana kabarku?
Karena, selain aku yang tanpa sadar
mencarimu disetiap orang yang aku temui, kau juga tahu bahwa kabarku pernah
jauh lebih baik, dan itu adalah ketika aku masih bersamamu
Akupun sama sepertimu, tak ingin
kita jauh, tak ingin kita seperti orang asing lagi. Tapi jujur saja, aku benci
menjadi orang pintar yang sudah terlanjur memenuhi otakku dengan banyaknya
pengetahuan bahwa sekarang kau tak lagi mencintaiku dan yang brengseknya lagi,
disini aku masih cinta.
Aku rindu menjadi orang bodoh. Yang
berani mencintaimu secara luar biasa ketika kita pergi berkencan untuk kedua
atau ketiga kalinya. Aku rindu menjadi orang bodoh yang mendengarkanmu menangis
setelah dilukai orang lain. Aku rindu menjadi orang bodoh yang berpura-pura tak
apa ketika telinga dijejali tawamu menceritakan orang lain
Aku rindu menjadi bodoh! Aku rindu kam... upsssss salah, aku
rindu menjadi bodoh!
Selain itu, disetiap kalimat "Aku
Tak Apa" yang aku ucapkan kepadamu, disana juga tersimpah sebuah rahasia
lain. Rahsia perihal hari-hariku yang tentunya sudah tanpa kamu. Baik buruknya
aku ingin banyak bercerita seperti dulu, kau mendengarkan, sesekali tertawa
karena aku menyelipakan kata-kata manis, atau ngakakkkk ketika aku menyelipkan
hinaan kecil perihal orang yang aku temui hari itu
Namun, aku memilih untuk tidak
bercerita lagi. Bukan karena apa-apa, lebih karena aku tak ingin mengganggu apa
yang sedang kau bangun sekarang bersama orang lain itu. Aku sebenarnya bisa
saja menjadi orang brengsek yang datang, masuk ke kehidupan kalian, mambuatmu
kembali jatuh cinta kepadaku, lalu kemudian aku pergi begitu saja. Ah, itu
perkara yang sangat mudah untukku. Bahkan hanya lewat tulisan saja aku mampu.
Tapi kau tahu aku. Aku yang
sebenar-benarnya, aku tidak akan pernah melakukan itu
Maka nanti disetiap kalimat "Aku
Tak Apa" yang aku ucapkan, aku harap kau mulai mengerti ada banyak
pengorbanan yang aku simpan didalamnya. Pengorbanan perihal aku, engkau, kita,
masalalu, dan masa depan
Terima kasih.
Akhirnya, surat ini aku tutup tepat
ketika lagu Michael Buble -
You don't Know Me yang
sedang mengalun di Cafe L-CO (Medan)
menyentuh detik-detik akhir.
Terima kasih sudah pernah datang. Terima kasih sudah pernah membuatku jatuh cinta. Aku pernah bahagia bertemu kau, dan aku tak pernah menyesal
Terima kasih sudah pernah datang. Terima kasih sudah pernah membuatku jatuh cinta. Aku pernah bahagia bertemu kau, dan aku tak pernah menyesal
Kita adalah sebuah kebetulan yang
entah bagaimana caranya bisa menjadi bahagia. Sesuatu yang tak pernah
disangaka-sangka sebelumnya, namun bisa bertahan begitu lama
Aku tak bermaksud memenangkan kau
kembali. Aku sudah cukup. Saatnya aku kembali berlari setelah cukup lama
beristirahat.
Kelak apabila kau tak sengaja
membaca surat yang diam-diam aku tulis untumu ini, lalu kau merasa bahwa aku
belum benar-benar bisa melupakanmu, well...
Seperti lagu yang sedang aku
dengarkan tadi, Sorry, You
Don't Know Me

