Jumat, 30 Maret 2018

I'm Fine


Aku mengetuk-ngetukkan korek diatas meja. Tangan kiriku masih setia menjepit rokok yang sudah setengah terbakar, sambil menatap suasana kearah luar dari sebuah Cafe yang berkonsep Vintage di kota ini dengan layar laptop yang masih menyala menunggu surat yang akan kutuliskan untukmu

kepada seseorang yang fotonya pernah ada disetiap tempat spesial yang aku siapkan
mungkin ini adalah surat fiksi yang keseribu kalinya aku tulis, namun tak akan pernah kamu baca. Tak apa, ia memang tercipta seperti itu atau lebih tepatnya seperti kisah kita kemarin, mungkin..? hahaha, sorry..sorry, aku tak bermaksud membuatmu tersinggung lagi

Oke, surat ini aku tulis bukan tanpa alasan, melainkan ada beberapa hal yang menggerakkan tanganku untuk kembali mengetik namamu lagi disini. Ahhh tidak, aku tidak mungkin menuliskan namamu disini
kau..kau.. Namamu terlalu indah, sekaligus terlau menyakitkan untuk ditulis disini

Malam ini aku menceritakan apa maksud dari setiap kata "Aku Tak Apa"  yang kau dapatkan, ketika kau bertanya kepadaku setiap aku terdiam. Aku bukan bermaksud menjadi seseorang yang egois dan kekanak-kanakan karena tidak memilih untuk bicara tentang perasaan yang aku rasa, hanya saja aku tidak tahu jika aku bicara, itu akan mengganggu kebahagiaanmu sekarang ini

Tak enak rasanya aku merusak kebahagiaanmu yang telah dibangun susah payah oleh seseorang (namun tetap tak sehebat aku), yang kau cium pipinya sebelum tidur itu. Karena dulu tanpa kau tahu, aku juga benci ketika kau disampingku, namun kau tetap membicarakan orang lain

ahh, tuh kan aku jadi membicarakan  masalalu. sorry..sorry...

Dari sekin banyak kerikil, dari sekian banyak anak tangga, dari sekian banyak persimpangan, dari sekian banyaknya hal-hal itu di masalalu, pada akhirnya aku sampai kepadamu kemarin. Aku kira aku akan berhenti cukup lama, namun ternyata tidak. Aku kira kau lebih dari sekedar tempat peristirahatan, namun ternyata kau adalah persimpangan yang lainnya

Namun aku akan jujur. Dari sekian banyak masalalu yang telah aku lalui, entah mengapa kau yang paling melekat. Rasa-rasanya setiap aku menemui orang baru dan menunjukkan nya kepada temanku, mereka akan berkata orang baru itu mirip dirimu
Entah itu matanya, hidungnya, bibirnya, badannya, bahkan gelak tawanya. Awalnya aku merasa ini hanya kebetulan, hingga pada akhirnya tiga temanku mengatakan bahwa setiap persimpangan yang aku lalui, semuanya selalu mirip dirimu

Astaga! Jadi, selama ini dibawah alam sadarku, aku mencari penggatimu. Namun sebenarnya aku mencari kau dalam diri orang lain? Ini sungguh memalukan bukan. Aku tak pernah merasa sebegitu bodohnya, kau adalah orang pertama yang mampu membuatku seperti ini

Tapi tenang aja, aku pun pada awalnya tak percaya. Mungkin ini hanya khayalku saja. Namun, semakin aku mencoba mengelak dari rasa yang aku buat sendiri ini, tanpa kusadari aku semakin mencari kau...iya kau...

Aku sangat pandai menasihati orang lain. Mencaci-maki setiap mereka yang bodoh karena bertahan setelah ditinggal pergi. Namun, sekarang aku adalah mereka. Aku mencaci-maki diriku sendiri. Ahhh... rasa-rasanya aku semuakin membenci diriku sendiri jika menceritakan hal ini lagi. Maka, maukah mulai sekarang kau mengerti apabila aku menjawab "Aku Tak Apa" ketika kau tanya bagaimana kabarku?
Karena, selain aku yang tanpa sadar mencarimu disetiap orang yang aku temui, kau juga tahu bahwa kabarku pernah jauh lebih baik, dan itu adalah ketika aku  masih bersamamu

Akupun sama sepertimu, tak ingin kita jauh, tak ingin kita seperti orang asing lagi. Tapi jujur saja, aku benci menjadi orang pintar yang sudah terlanjur memenuhi otakku dengan banyaknya pengetahuan bahwa sekarang kau tak lagi mencintaiku dan yang brengseknya lagi, disini aku masih cinta.

Aku rindu menjadi orang bodoh. Yang berani mencintaimu secara luar biasa ketika kita pergi berkencan untuk kedua atau ketiga kalinya. Aku rindu menjadi orang bodoh yang mendengarkanmu menangis setelah dilukai orang lain. Aku rindu menjadi orang bodoh yang berpura-pura tak apa ketika telinga dijejali tawamu menceritakan orang lain

Aku rindu menjadi bodoh! Aku rindu kam... upsssss salah, aku rindu menjadi bodoh!

Selain itu, disetiap kalimat "Aku Tak Apa" yang aku ucapkan kepadamu, disana juga tersimpah sebuah rahasia lain. Rahsia perihal hari-hariku yang tentunya sudah tanpa kamu. Baik buruknya aku ingin banyak bercerita seperti dulu, kau mendengarkan, sesekali tertawa karena aku menyelipakan kata-kata manis, atau ngakakkkk ketika aku menyelipkan hinaan kecil perihal orang yang aku temui hari itu

Namun, aku memilih untuk tidak bercerita lagi. Bukan karena apa-apa, lebih karena aku tak ingin mengganggu apa yang sedang kau bangun sekarang bersama orang lain itu. Aku sebenarnya bisa saja menjadi orang brengsek yang datang, masuk ke kehidupan kalian, mambuatmu kembali jatuh cinta kepadaku, lalu kemudian aku pergi begitu saja. Ah, itu perkara yang sangat mudah untukku. Bahkan hanya lewat tulisan saja aku mampu.
Tapi kau tahu aku. Aku yang sebenar-benarnya, aku tidak akan pernah melakukan itu

Maka nanti disetiap kalimat "Aku Tak Apa" yang aku ucapkan, aku harap kau mulai mengerti ada banyak pengorbanan yang aku simpan didalamnya. Pengorbanan perihal aku, engkau, kita, masalalu, dan masa depan

Terima kasih.

Akhirnya, surat ini aku tutup tepat ketika lagu Michael Buble - You don't Know Me  yang sedang mengalun di Cafe L-CO (Medan) menyentuh detik-detik akhir.
Terima kasih sudah pernah datang. Terima kasih sudah pernah membuatku jatuh cinta. Aku pernah bahagia bertemu kau, dan aku tak pernah menyesal

Kita adalah sebuah kebetulan yang entah bagaimana caranya bisa menjadi bahagia. Sesuatu yang tak pernah disangaka-sangka sebelumnya, namun bisa bertahan begitu lama

Aku tak bermaksud memenangkan kau kembali. Aku sudah cukup. Saatnya aku kembali berlari setelah cukup lama beristirahat.
Kelak apabila kau tak sengaja membaca surat yang diam-diam aku tulis untumu ini, lalu kau merasa bahwa aku belum benar-benar bisa melupakanmu, well...
Seperti lagu yang sedang aku dengarkan tadi, Sorry, You Don't Know Me


Tidak ada komentar:

Posting Komentar